Assalammu'alaikum Wr. Wb.
Oleh Rita & Ghifi
Tak terasa akhir tahun 2008 sudah di depan mata, waktu begitu cepat berlalu, dan akhirnya kami sekeluarga punya kesempatan untuk bisa mudik (orang udik memang seharusnya mudik) kembali ke kota tempat kami dilahirkan.
Putri solo sejati yang menghabiskan seluruh masa batita, balita, remaja & menjelang dewasa di luar tembok keagungan keraton, tidak pernah beranjak dari zona kejawaannya, 25 tahun lamanya mengabdikan dirinya menjadi saksi hidup kota ini dari masa ke masa. Sedangkan "mas-mas" yang sejak kecil hingga lulus SMA (sekarang SMU) tinggal dan dibesarkan di karesidenan ini, kalau dihitung sudah 18 tahun, sebelum meninggalkannya untuk mencari ilmu dan pengalaman hidupnya di belahan dunia yg lain.
Kota Solo dikenal dengan kuliner tradisional yang "Mak Nyos", sangat terkenal dengan nasi liwetnya, soto, daging kambing, gudeg ceker, gudeg, nasi timlo, bistik jawa, serabi, bakmi kethoprak dan lain-lain. Semua wisatawan akan melakukan dua hal di Solo, menikmati makanan khas Solo dan belanja Batik, dengan aneka warna asesorisnya.
Di waktu-waktu sebelumnya, kami melihat kota Solo seperti kota yang sedang bangkit dari keterpurukannya bertahun-tahun. Keterpurukan itu mengalami puncaknya pada tahun 1998 ketika krisis moneter. Dimana saat itu Solo menjadi sasaran kemarahan manusia Indonesia dan banyak bangunan yang dirusak serta kondisi ekonomi yang sangat menurun.
Ketika berbincang dengan orang tua dan juga mertua, satu hal yang dapat menggambarkan budaya orang Solo yang dikenal santun dan lemah lembut, ternyata dibalik sikap kelemah-lembutan, ada satu karakter yang menjadi simbol dan tercermin pada keterpurukan Solo selama kurang lebih 10 tahun lebih, yaitu rasa "apatis" atau pesimis, seadanya saja yang penting saya untung peduli dengan si Anu.
Beberapa hal Solo saat ini sudah sedikit berubah, melihat Solo menjadi kota yang lebih teratur, sebelumnya banyak sekali kaki lima dimana-mana dan terlihat berantakan dan menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan kumuh. Namun hari ini kami melihat hal itu sudah mulai tidak terlihat, lingkungan terlebih lebih bersih dan lebih teratur, barangkali karena musim hujan ini juga turut membersihkan kotaku yang tercinta. Dimana-mana kudengar berita banjir seperti kota-kota di Jawa Timur, Kalimantan, bahkan Jawa Barat, Jawa Tengah, namun tidak dengan Solo, walaupun tahun lalu daerah suburb kota Solo juga terendam, tapi hari ini berita banjir tidak terdengar, walaupun sayup-sayu.
Dulu ketika melewati Proliman (baca: perlimaan) di dekat stasiun kereta Balapan lampu merah pengatur lalu-lintas selalu mati sehingga para pengemudi harus berhati-hati karena lalu-lintas tumpah ruah mulai dari becak, sepeda, sepeda motor, dan mobil berlomba-lomba melewati perlimaan tersebut. Namun kini kami sedikit terkejut ketika melewati jalur tersebut, karena lampu merah sudah beroperasi kembali, dan pengguna kendaraan terlihat teratur tidak ada yang mencoba untuk mendahului lampu merah yang ada pada perlimaan tersebut.
Satu hal temuan unik ketika melewati salah satu jalan protokol di Jalan Slamet Riyadi terlihat nama-nama Perbankan, Perkantoran, Cafe dan deretan toko-toko yang dihias dengan manis dibawahnya tulisan jawa, Ho-No-Co-Ro-Ko, mengingatkan kami pada pelajaran Boso Jowo waktu duduk di bangku SD. Seperti kita sedang berada di Mekah semua tulisan latin ada arab gundul dibawahnya ato seperti di Hong-Kong semua bahasa Inggris disana diartikan dengan huruf-huruf bahasa Cina dibawahnya yang kami bisa membacanyapun tidak.
Di setiap sudutnya terdapat wajah-wajah Javanese asli yang klasik dan tampan, berhidung mancung dan berasesoris seperti wayang. Itulah topeng-topeng dengan ukuran besar seperti menjadi simbol dan menghiasi hampir setiap sudut kosong jalanan kota yang dulu selalu mendapat penghargaan Adipura Kencana.
"Change" seperti Mr. Barack Husein Obama II selalu bilang pada orang-orang berbagai etnis di Amerika untuk keluar dari keterpurukan krisis yang melanda dunia, maka kota Solo juga telah merubah wajahnya. Seperti artis-artis yang telah dipermak dengan operasi plastik, Kota SOLO memang dipaksa untuk mau tidak mau harus mau berubah menjadi CANTIK.
Kamis, 25 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar