Oleh raditio ghifiardi
Jarang sekali saya mendapatkan kesempatan untuk ngobrol bersama kedua orang tua saya. Ketika orang tua saya datang ke jakarta, terutama Ibu saya, biasanya karena ada acara kantor seperti seminar dan konferensi sehingga tidak punya banyak waktu untuk ngobrol. Ibu Indah Yulianto adalah salah satu tokoh dokter dari sedikit dokter kulit yang memprakarsai bedah kulit dan kosmetik di Indonesia. Nama Beliau cukup dikenal dikalangan dunia kedokteran terutama yang berkaitan dengan kulit dan kecantikan. Tentu saja ngobrolnya tidak mengenai bedah kulit dan kecantikan, karena terus terang urusan yang satu itu saya tidak terlalu mengerti walaupun mau juga kalau istri saya selalu terlihat cantik dan fresh.
Obrolan berkisar mengenai nilai-nilai yang dianut oleh rekan-rekan seprofesi. Saya teringat perkataan teman saya ada satu sifat yang namanya kiatsu kalau menurut wikipedia artinya takut akan kekalahan (fear of loosing). Dokter merupakan profesi yang sangat mulia, karena visi dan misi dari seorang dokter adalah menolong orang yang membutuhkan. Dedikasi seorang dokter sangat tinggi, baginya pasien, tua atau muda, miskin atau kaya adalah sangat berharga, dan dokter tersebut harus mempertaruhkan reputasinya memastikan bahwa pasien tersebut selalu dalam mendapatkan treatment yang terbaik. Namun seiring dengan berjalannya waktu profesi ini menjadi ladang untuk mendapatkan bisnis. Biaya pendidikan yang makin melangit, seorang sarjana kedokteran harus berasal dari keluarga kaya karena uang masuknya sangat mahal, dapat mencapai ratusan juta bahkan Miliaran, ketika seorang calon mahasiswa akan mengambil spesialisasi bidang tertentu.
Begitu besar biaya yang harus dikeluarkan, belum lagi ada pembatasan penerimaan mahasiswa terutama dari kalangan non-pribumi. Mahasiswa non-pribumi ini punya karakter biasanya cerdas, rajin, santun dan tentunya kaya. Mereka selalu memberikan yang terbaik dari diri mereka, berbeda dengan mahasiswa pribumi yang cenderung malas dan oleh karenanya (mohon maaf) tidak terlalu cerdas. Dua hal ini membuat sistem pendidikan kedokteran di Indonesia menjadi carut marut, bukan pendidikannya melainkan sistem dan kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan.
Manusia oportunis pragmatislah yang dihasilkan oleh sistem pendidikan ini karena mereka telah termotivasi untuk dapat segera mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya setelah mendapatkan gelar kedokteran yang prestigious.
Hal ini juga diperburuk oleh industri farmasi (obat-obatan) yang memanfaatkan dinamika ini. Industri ini cenderung mengambil keuntungan semaksimal mungkin melalui para resellernya dalam hal ini dokter. Keuntungan yang menggiurkan banyak ditawarkan oleh industri ini walaupun harus melanggar etika kedokteran. Apalagi kondisi krisis finansial yang melanda, membuat industri ini semakin edan untuk berbuat apapun untuk dapat menjaga volume penjualannya agar tidak turun, melalui iming-iming fee kepada para resellernya.
Tidak seperti dokter-dokter yang oportunis ini, Ibu saya selalu memberitahukan bahwa Beliau sama sekali tidak tertarik dengan godaan materi yang begitu kuat. Bisa saja kedua orang tua saya meng"iya"kan tawaran menggiurkan tersebut dan mendapatkan materi yang begitu banyak, namun kedua orang tua saya tak bergeming
Saya jadi teringat bahwa perilaku spekulasi bisnis seperti ini, sebenarnya juga sama dengan bisnis di industri-industri lain seperti spekulasi di industri properti dan keuangan misalnya. Bedanya ini adalah bisnis yang melanggar etika kedokteran dengan membantu institusi farmasi untuk memesan beberapa obat yang kontroversial yang lebih dari proporsi yang seharusnya.
Perilaku spekulasi sudah begitu dalam menjangkiti hampir semua profesi di tanah air yang tercinta ini. Hanya orang-orang yang memiliki integritas tinggi saja yang masih dapat bertahan. Namun jumlah itu tidak banyak dan bisa dibilang amat langka serta nyaris punah.
Pada kondisi yang berat seperti sekarang ini, dibutuhkan role model dan saya mendapatkan hal itu pada Ibu saya. Ibu saya sangat menjaga nilai-nilai integritas profesi dan nilai-nilai excellence. Sudah banyak teman-teman dokter yang mengeluh akan banyaknya persaingan baik dari individu maupun institusi waralaba.
Dunia kedokteran adalah dunia yang sangat dinamis, seperti teknologi, perubahannya sangat cepat, bisa jadi jenis metode pengobatan hari ini sudah menjadi usang termakan jaman, dan digantikan dengan metode pengobatan lainnya yang lebih efisien dan efektif di masa depan.
Ibu saya juga adalah seorang dosen yang sangat handal, beliau walaupun dengan fasilitas minim dari institusi dimana Beliau mengabdi, selalu memberikan waktu yang cukup untuk membimbing dan mendidik mahasiswa-mahasiswinya. Tentunya kebanggaan beliau adalah apabila mahasiswa bimbingannya adalah mahasiswa yang cerdas dan bermoral. Sehingga diharapkan ketika mereka lulus nanti, dapat mengabdikan ilmu dan pengalamannya di dunia nyata.
Begitu juga ketika Beliau sebagai seorang trainer. Semua Trainee selalu merasa puas karena mendapatkan kesempatan hands-on terhadap materi dan objek training, tidak seperti ketika mereka mengambil training di luar negeri dimana mereka harus membayar ribuan US Dollar namun hanya mendapatkan kesempatan untuk melihat tanpa melakukan hands-on pada objeknya.
Menurut Beliau ilmu itu datangnya dari Allah Swt. dan ilmu Allah Swt. adalah tak terhingga, dan ketika kita melakukan sharing, bukan berarti ilmu kita menjadi berkurang bahkan terus memacu kita untuk makin berinovasi dan mengembangkan potensi diri tanpa harus takut kehilangan ladang penghasilan. Barangkali pelajaran ini juga bisa saya lihat ketika pemerintah AS masih belum mau melepaskan hegemoninya baik secara politik maupun ekonomi terhadap negara berkembang, dengan selalu melakukan veto terhadap keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi negara bekembang karena merasa takut akan kehilangan kekuatan dan keuntungan yang mereka ambil dari negara-negara berkembang selama ini.
Terkadang saya juga berpikir sayang sekali kalau Beliau tidak ada penerusnya karena kapasitas dan ilmunya sangat mendalam beliau mendapatkan gelar S3-nya melalui disertasinya di bidang biomolekuler, satu bidang yang fantastis tak banyak yang kenal dengan bidang ini dan tingkat kesulitannya sangat tinggi, bahkan jumlah dan kapasitas dosen pembimbingnya sangat terbatas. Namun Beliau berusaha menandaskan bahwa Beliau sedang merintis kader melalui pendidikan spesialis kedokteran dengan memberikan bimbingan thesis mahasiswanya dan dari thesis tersebut fakultas kedokteran di Universitas Sebelas Maret Surakarta akan bergerak maju. Ingin mengikuti jejak Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang sudah begitu banyak menelurkan spesialis-spesialis dengan mutu thesis yang tinggi.
Regenerasi di berbagai bidang sangatlah penting, kemajuan suatu bangsa tergantung daripada regenarasi bibit unggul yang dihasilkan seperti negara China dan India yang memiliki begitu banyak sumber daya manusia unggul, bahkan negara adidaya seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa mulai was-was karena sumber daya mereka mulai tertinggal jauh oleh sumber daya manusia dari China dan India. Salah satu momen yang mereka raih adalah menterjemahkan berbagai macam literatur barat ke dalam bahasa mereka, terutama China karena sebagian besar masyarakat China biasanya tidak bisa berbahasa Inggris tidak seperti India yang rata-rata masyarakatnya sudah bisa berbahasa Inggris. Mirip dengan Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya tidak bisa berbahasa Inggris, namun semangat untuk mengalihbahasakan literatur barat masih sangat rendah.
Dengan segala kekurangan ini tentunya memacu saya untuk tetap satu langkah lebih maju menghadapi persoalan dunia yang sangat dinamis dan rumit serta membutuhkan solusi tepat dan cermat untuk dapat membawa dunia keluar dari keterpurukan, sekecil apapun hasil usaha ini.
wallahu'alam bi showab
ghifi.multiply.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar