Minggu, 14 Desember 2008

Apakah Indonesia Ingin Dikenang Sebagai Negara Dengan Julukan "Maid Service For The World"

Assalammu’alaikum Wr. Wb.

Ketika China mendapat julukan factory to the world karena bisa memproduksi apa saja dengan harga yang lebih murah dan ketika Amerika Serikat mendapatkan julukan buyer to the world karena membeli apa saja barang-barang yang diekspor oleh Negara berkembang, dan India menjadi back office to the world karena menyelesaikan administrasi apa saja yang biasanya dikerjakan oleh Negara maju yang dikenal dengan offshoring atau outsourcing, apakah kemudian Indonesia menjadi maid Service to the world karena begitu besar jumlah pembantu rumah tangga yang diekspor ke negara-negara di seluruh dunia ketika mencari pekerjaan di Indonesia terasa susah dan karena di luar negeri dibayar lebih mahal sehingga menghasilkan devisa bagi pemerintah Indonesia?

Seringkali, China mendapatkan kritikan dari masyarakat AS karena nilai mata uang renmimbinya (juga disebut "uang rakyat") atau yuan karena terlalu murah terhadap US Dollar sehingga mengurangi daya saing produk AS. Namun pada saat ini sepertinya sangat tidak mungkin bagi konsumen sepertinya mengetahui produk mana yang dibuat oleh negara mana dan secara realistis konsumer tidak peduli ketika program komputer ditulis di India atau di AS.
Bagi nasabah tidak ada bedanya jika orang yang bertugas mempersiapkan laporan pajak, atau operator telephone, atau staff yang mengurusi kredit pinjaman memakai pakaian khas India (sari) dan bekerja di India atau memakai topi baseball dan bekerja di negara bagian Amerika Serikat. Sebenarnya masyarakat AS telah menikmati barang-barang yang murah yang mereka beli dari Wal-Mart dan layanan Call Center yang siap melayani berbagai pertanyaan maupun keluhan pelanggan terhadap produk tertentu. Masih hangat dalam ingatan kita ketika di dalam negeri ada anjuran untuk berbelanja di pasar tradisional, sepertinya hal ini susah mendapatkan perhatian ketika berbelanja di pasar modern, konsumen diberikan berbagai macam pilihan produk, kenyamanan berbelanja, dan harga yang terjangkau, dan hal ini susah didapatkan di pasar-pasar tradisional, ditambah lagi konsumen tidak akan bisa membedakaan mana yang buatan lokal atau hasil impor.

Kemudian selama masyarakat AS identik dengan membelanjakan uangnya melebihi tabungannya, di masa lalu pada tahun 1990an mereka ini masih dapat menabung dengan rasio tabungan terhadapt penghasilan per tahunnya 8% namun, di tahun 2006 rationya adalah -1%. Apalagi dengan krisis perumahan yang melanda sekarang ditambah dengan pasar saham yang jatuh maka hal ini menambah penderitaan masyarakat AS. Barangkali bangsa Indonesia melihat fenomena ini, seharusnya harus belajar untuk menabung walau sedikit. Lihatlah ketika masyarakat China berpenghasilan $5000 per tahun dan menyimpan $1.500 sedangkan masyarakat AS berpenghasilan $40.000 tapi mereka tidak menabung sama sekali. Kita merasa sedih ketika masyarakat Indonesia juga berbelanja diluar kemampuannya melalui uang plastik dan hanya membayar minimum payment, dimana bunga kartu plastik ini mencapai 48-60% per tahun. Orang Indonesia harus meniru rekan-rekannya dari China dan India yang bisa menabung walau sedikit, dan mulai memikirkan dana pensiun mereka serta memperkuat safety net yang akan digunakan oleh masyarakat miskin kita terutama pada saat krisis ekonomi global melanda.

Yang ditakuti oleh masyarakat AS dan oleh masyarakat negara maju lainnya terhadap Negara Asia terutama India dan China adalah mereka akan kehilangan pekerjaannya karena semua pekerjaan kerah putih telah diambil alih oleh China dan India. Semua pekerjaan ini diekspor ke China dan India karena mereka mau dibayar murah. Hal ini juga diakui oleh para CEO seperti CEO Sybase, John Chen, dia mengatakan bahwa dia membayar para pekerja dari India dan China sebanyak 400 orang dan di India saja sudah mencapai 200 orang, Dia menyebutkan,”Hal ini sangat memalukan, pekerjaan ini seharusnya adalah perkerjaan dengan bayaran tinggi di Amerika Serikat.”

Dia menambahkan bahwa masyarakat Amerika Serikat tidak bias berleha-leha ketika dia melihat sistem pendidikan negeri yang gagal walaupun pada level yang paling dasar. Perusahaan Amerika Serikat hanya fokus pada pendapatan pada kuartal berikutnya dan tidak pada strategi jangka panjang ketika munculnya kembali India dan China merubah tatanan bisnis global. Seperti pemerintah, perusahaan mengurangi anggaran untuk penelitian ketika inovasi merupakan alat satu-satunya untuk dapat menjadi terdepan.

Menurut Chief Economist dari Morgan Stanley, Stephen Roach, bahwa masyarakat Amerika Serikat harus melakukan “reinvent again” karena pekerjaan yang para pekerja berkerah putih telah hilang dan tidak akan kembali. Kembalinya India dan China telah mentransformasi ekonomi global dan masyrakat Amerika tidak siap dengan perubahan ini.

Kalau kita bandingkan dengan masyarakat Indonesia, tidak banyak berbeda, pemerintahnya yang menghabiskan uang untuk mensubsidi perilaku konsumtifnya yang boros pada masyarakatnya dan sebagian lagi untuk membayar hutangnya yang mulai menggelembung yang hanya digunakan untuk hal-hal yang konsumtif bukan investasi. Pemerintah Indonesia sudah diperingatkan beberapa kali untuk mempedulikan pendidikan dasar yang semakin tidak terjangkau dan memprioritaskan pembangungan infrastruktur kalau tidak ingin generasi berikutnya lebih buruk dari generasi sekarang.

Infrasturktur yang baru, fondasi ekonomi sector riil, dan perbaikan sistem pendidikan adalah harus untuk mempertahankan posisi Negara maju pada posisi teratas. Akan tetapi ada satu hal lagi yang menjadi bumbu yang sangat penting yaitu “inovasi” kita dapat ambil contoh misalnya penciptaan internet. Untuk mendesak perkembangan ini sebuah Negara harus meningkatkan anggaran bagi penelitian yang sifatnya dasar, seperti non-komersial, dan mengedepankan science (terutama bagi Negara maju). Bagi Negara maju seperti Amerika Serikat, mereka telah memiliki kapasitas untuk selalu melakukan “reinvent itself” yang sangat luar biasa, apakah hal ini dapat diikuti oleh Negara seperti Indonesia yang sebenarnya tidak kalah kreatif dan inovatif dibandingkan dengan negara besar lainnya?

Disadur dari Buku "The Elephant and The Dragon" oleh Robyn Meredith

Wallahu’alam bishowab
Ghifi.multiply.com



Tidak ada komentar: