Kemaren malam ketika saya pulang dari dinas lur kantor, dan setelah lelah seharian harus mengejar perapian system IT di kantor karena kebetulan Bos akan datang sidak melihat keadaan di ruangan tersebut awal minggu depan ini. Saya bersama dengan Rizki teman saya memesan taksi untuk pulang ke rumah. Seperti biasa memesan taxi yang memang kita anggap dapat diandalkan apalagi harus pulang malam-malam karena sudah banyak kejadian taxi-taxi disalahgunakan untuk merampok orang, dan beruntung kalau hanya harta saja yang melayang, seringkali nyawa juga bisa menjadi taruhannya.
Rumah kami sangat berjauhan, saya di daerah Menteng Atas, sedangkan Rizki teman saya di Cibubur, ditambah lagi kami berangkat dari arah Rempoa, Ciputat. Dalam perjalanan menuju pulang, awalnya kami bersama Pak Sopir hanya mengobrol soal alternatif jalan untuk menghindari kemacetan karena jam tersebut adalah jam pulang. Pak sopir dengan mudah memberikan alternatif jalan yang tidak terlalu macet, dan kita mengiyakan saja yang penting dapat sampai di rumah dengan lancar.
Setelah sedikit mengobrol dengan Rizki soal Dia yang ingin melanjutkan sekolah mengambil sarjana S1 ekstension di salah satu universitas negeri di jakarta, dan rupanya dia ingin masa depan lebih baik, bahkan Rizki menceritakan bahwa adik-adiknya juga diharuskan berkuliah di unviersitas negeri karena orang tuanya tidak mau membiayai apabila anak-anaknya sekolah di swasta. Padahal di kondisi krisis seperti hari ini, apa yang bisa dilakukan oleh seorang lulusan SMA? Paling-paling menjadi helper di mal-mal. Uang yang didapat dari bekerja juga tidak akan cukup untuk membayar SPP kuliah di universitas swasta. Tiba-tiba Pak sopir menimpali dan menanyakan jurusan studi apa yang bagus buat anaknya agar dapat kuliah dan mendapatkan masa depan yang lebih baik. Tipikal orang tua yang ingin agar anaknya dapat memiliki pekerjaan yang baik seperti di bank terbesar, industri otomotif terdepan atau perusahaan telekomunikasi terkemuka. Dia menyebutkan 5 tahun dari sekarang, bidang apa yang banyak diinginkan oleh lapangan kerja. Saya berpikir sejenak, di masa yang seperti ini sudah dapat bekerja aja sudah cukup beruntung, saya tidak habis pikir generasi saya saat ini sedang melalui waktu yang sangat berat, krisis yang berulang-ulang, padahal di jaman dulu krisis paling terjadi saat tahun 1965 waktu itu harga menjulang tinggi, politik juga dalam persimpangan jalan, kepemimpinan nasional tidak dapat menjawab masalah. Namun lihat saja sekarang, hampir setiap 10 tahun sekali berulang bahkan sifatnya lebih sistemik sepertinya negara-negara di dunia akan mau tidak mau harus menghadapi kondisi yang tidak mengenakkan ini yang sebenarnya adalah buatan manusia biasa, bagaimana dengan nanti bisa-bisa setiap 5 tahun sekali, kemudian 3 tahun sekali, lama-lama setiap tahun. Apapun yang terjadi kita sudah seharusnya bersyukur kepada Allah Swt. ternyata republik ini masih bisa bertahan walaupun tetangganya sudah mulai terkena dampak resesi yang berkepanjangan, dan berharap bahwa krisis global ini tidak berkepanjangan.
Sebenarnya Pak Sopir tersebut melemparkan pertanyaan itu kepada Rizki, namun segera saya potong,"Memang anaknya senangnya apa?" Tanpa membuang waktu Dia menimpali cepat," Saya lihat dia (anak Pak Sopir) suka sekali dengan matematika dan komputer." Pak sopir ini ternyata punya anak ada 4 orang, 1 orang akan segera lulus SMA, yang nomor 2 masih SMP, dan 2 orang adiknya masih duduk di bangku SD. Kadang saya tidak bisa berpikir bagaimana dia dapat menghidupi begitu banyak anak dengan pendapatan yang pas-pasan sebagai seorang sopir. Memang rezeki balik-baliknya datang dari Yang dari Allah Swt, Dia punya rencananya sendiri, memiliki otak dan kemampuan di atas rata-rata ternyata tidak gampang ketika berhadapan dengan alokasi rezeki yang kayaknya terlihat rumit, namun bagi Sang Pencipta semua itu mudah, hal ini kenapa kalo saya ke seminar-seminar motivasi sering kurang masuk akal sedangkan tementemen peserta yang lain sangat menikmati sampai-sampai mengeluarkan air mata haru, atau malah kadang-kadang melompat-lompat penuh kepuasan ketika mendapatkan motivasi dari sang mentor. Barangkali harus lebih open minded sehingga ilmu yang harus diterima dengan otak kanan bisa diterima dengan baik, tidak melulu berlebihan dengan otak kiri.
Kemudian saya potong lagi," Pak 5 tahun dari sekarang negara republik ini membutuhkan pengusaha (entrepreneur) dalam jumlah yang cukup banyak!" karena saya tahu sekali bahwa jumlah pengusaha di republik ini masih kurang dari 2%, jumlah yang sebenarkan dibutuhkan untuk memajukan ekonomi republik ini dimana jumlah jumlah pengangguran terbuka lebih dari 10 juta dan kemiskinan mencapai lebih dari 40 juta jiwa, tanpa jiwa entrepeneur terutama dari pemuda-pemudanya maka generasi yang akan datang tidak akan lebih baik dari generasi hari ini karena kurangnya kemandirian dan ketergantungan dengan pemerintah dalam hal ketenagakerjaan akan semakin tinggi. "Pak, Pak Sopir menimpali lagi,"Seharusnya pemerintah republik ini memperhatikan petani kapas bukan memperbanyak jumlah mal dan membagi-bagikan BLT (baca: Bantuan Langsung Tunai)!!" Sekilas saya terhenyak dengan pernyataan Bapak Sopir karena dari seorang sopir bisa memberikan analisa ekonomi yang terdengar kompleks menjadi sederhana. Saya sedikit berpikir sambil mendengarkan komentar-komentar yang dilontarkan oleh Bapak sopir tersebut yang ditimpali oleh Rizki kawan saya. Kemudian setelah saya sedikit bisa memahami perkataannya, bisa jadi semua yang dikatakannya ada benarnya.
Selama ini free market (baca: pasar bebas) dalam melakukan investasi modalnya selalu mencari portfolio yang tingkat pengembalian tinggi dalam jangka pendek (baca: spekulan) seperti properti, surat berharga, mall, namun jarang sekali melakukan investasi misalnya di bidang pendidikan, pertanian, perkebunan, pengembangan produk-produk andalan lokal. Kembali lagi sepertinya hanya pemerintah saja yang bisa memberikan insentif atau bahkan mengarahkan baik dana publik maupun dana swasta untuk berinvestasi dibidang-bidang yang sebenarnya memiliki potensi luar biasa namun tidak banyak dilirik oleh para investor karena dianggap sebagai death asset (baca: asset yang tidak atau kurang menghasilkan tingkat pengembalian yang diharapkan).
"Lihat saja Pak, Pak Sopir kembali meneruskan komentarnya, "Dengan keberadaan mal-mal itu barang-barang garmen semuanya adalah hasil impor."Kemudian lanjutnya," Petani kapas tidak bisa mengembangkan usahanya karena pupuk mahal sedangkan modal tidak mencukupi, otomatis industri garmen menjadi sulit berkembang kalah dengan produk impor."
Memang kalau melihat saat ini banyak sekali industri di Indonesia yang terpaksa harus gulung tikar dan melakukan PHK terhadap para karyawannya termasuk sopir taksi ini yang belum lama kena PHK dari pabrik garmen ditempat Dia bekerja. Sampai-sampai pemerintah harus memberikan insentif baik dalam bentuk pemotongan pajak pendapatan, penurunan Tarif Dasar Listrik, Maupun BBM supaya industri tidak terlalu terbebani dengan global demand yang menurun.
Akan tetapi memang fokus pemerintah terutama Pemerintah Daerah harus lebih memperhatikan industri kecil, dan tidak hanya memberi ijin kepada pengusaha kakap membangun mal-mal dimana-mana atau hotel, dan bangunan kantor, akan tetapi juga bekerja keras untuk mendorong industri mikro dan enterpreneurship di lingkungan daerahnya.
Saya berkesimpulan ternyata rakyat kecil seperti Sopir taxi bisa menggambarkan kondisi mikro di republik ini dengan cukup akurat, tentunya mudah-mudahan keluhannya bisa didengar oleh para pembesar di negeri republik ini, yang selama ini hanya sebagai tuan tanah menyewakan tanah-tanahnya tanpa bekerja keras karena dari rental aja udah untung mengapa harus bekerja capek-capek. Walaupun seorang pemimpin akan dikenang oleh umatnya bukanlah karena kekayaannya, atau kebangsawanannya, atau karirnya yang melesat, namun seorang pemimpin akan dikenang karena kebijakannya, keteladanannya, dan karyanya tentunya.
wallahu'alam bi showab
ghifi.multiply.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar