Sabtu, 29 Desember 2007

Perilaku Pencairan Dana Investor Individu Pada Berbagai Macam Reksa Dana

Artikel ini mempunyai tujuan utama yaitu mengetahui perilaku redemption yang dilakukan oleh para nasabah dikaitkan dengan kondisi portfolio asset salah satu Bank BUMN yang menjadi sample tahun 2005 – 2006, melalui pola uji regresi beberapa vaiabel kandidat, untuk melihat pengaruh variabel tersebut terhadap besaran redemption. Dalam literatur-literatur behavioral finance disebutkan bahwa perilaku redemption yang mendominasi pada stock di pasar modal umumnya yaitu melakukan realisasi keuntungan terlalu dini apabila harga stock tersebut mengalami kenaikan, dan melakukan penahanan realisasi kerugian apabila harga stock tersebut mengalami penurunan, sering disebut sebagai disposition effect.

Pada awal penulisan artikel ini memperkenalkan latar belakang instrumen investasi syariah untuk mendorong sektor riil yang diharapkan akan mengimbangi pembiayaan yang diberikan oleh perbankan dan perkembangan industri Wealth Management dan reksa dana di Indonesia yang diikuti oleh rumusan permasalahan, tujuan penulisan, lingkup penulisan, dan kerangka penulisan yang berkaitan dengan orientasi dan sample perilaku investor individu Salah satu Bank BUMN yang menjadi sample. Kemudian di bab selanjutnya penulis mengemukakan mengenai kaedah yang umum dipakai di bidang behavioral finance terutama riset yang dilakukan oleh Daniel Kahneman and Amos Tversky (1979), disertai dengan fenomena perkembangannya yang dilengkapi dengan perkembangan industri reksa dana secara umum ditambah dengan reksa dana syariah khususnya yang disertai dengan hasil survey atau wawancara yang dilakukan oleh Investment Company Institute (ICI) kepada investor individu yang mengambil keputusan redemption pada reksa dana. Latar belakang perusahaan menjadi topik pembicaraan pada bab berikutnya yang dilengkapi dengan metodologi penulisan. Studi artikel ini dalam penulisannya menggunakan metodologi regresi yang dikombinasikan dengan metodologi non-parametrically hazard rate λ0(t) (Han dan Hausman(1990), Meyer(1990)).untuk melihat kemungkinan penjualan reksa dana pada hari setelah melakukan pembelian pada kondisi baik mendapatkan accrued Gain maupun kondisi buruk mendapatkan accrued Loss. Gabungan dua metodologi ini akan menghasilkan output yang relatif akurat sebagai model pengukur perilaku redemption pada portfolio asset yang terdiri dari berbagai jenis reksa dana. Pokok penulisan dalam study adalah daily asset appreciation dan depreciation selama periode 2005-2006 dengan tujuan memperoleh gambaran perilaku redemption reksa dana pada kondisi crash reksa dana, dan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan dengan masa normal. Sebuah studi oleh Ivkovic, Zoran., & Scott Weisbenner,(2006) memperlihatkan bahwa fund redemption ditentukan oleh performa “absolute” pada fund.

Hasil penulisan pada artikel ini menunjukkan bahwa selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2006, investor individu yang menjadi nasabah Salah satu Bank BUMN yang menjadi sample mengambil keputusan melakukan redemption adalah secara eksklusif didorong oleh performa ”absolute” dananya. Hal ini dapat disimpulkan dengan cara mengumpulkan data agregat harian individu investor untuk mengkonstruksi data Gain, loss, daily return dan outflow.

Penulisan ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara variabel Gain dengan perilaku redemption yang ditunjukkan melalui coefficient Gain ≈ nol, hal ini terkait dengan persepsi investor individu untuk mengejar dan membeli reksa dana yang memiliki performa ”relative” lebih baik.

Temuan lainnya juga menunjukkan bahwa besaran volatilitas jenis reksa dana tertentu (baik syariah maupun konvensional) lebih besar dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya. Sebagai contoh reksa dana pendapatan tetap yang memiliki alokasi aset kelolaan hingga 44% di tahun 2005 dan 36.7% di tahun 2006 (Bapepam), dengan semakin besar alokasi aset kelolaan maka semakin besar pula ”bubble” pada reksa dana tersebut karena hazard rate pada semua jenis reksa dana yang deteliti yang terdiri dari reksa dana saham, pendapatan tetap, dan campuran memiliki kemiripan pola, maka semakin besar daily return khususnya pada jenis reksa dana pendapatan tetap, semakin besar pula volatilitasnya. Ini juga berarti volatilistas reksa dana saham yang pada tahun 2007 bertumbuh sangat siknifikan juga jauh leibh besar dibandingkan dengan reksa dana lainnya, dan ketika bubble pada reksa dana tersebut meletus, maka pengaruh terbesar yang dirasakan adalah pada reksa dana golongan ini.

Kemudian bagi penulis, adalah tantangan untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa struktur behavior investor individu di dalam mengambil keputusannya seperti yang dialami oleh industri reksa dana di tahun 2005 yang kemudian dikaitkan dengan perubahan besaran hazard rate yang signifikan. Sedangkan bagi akademisi, hal ini semakin menguatkan kesimpulan bahwa industri reksa dana Indonesia memiliki bentuk pasar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi negara tersebut. Bagi pelaku industri reksa dana adalah waktu yang tepat untuk melakukan diversifikasi produk dan meningkatkan kompetensinya karena begitu cepat perkembangan industri ini, ditambah lagi dengan investor yang semakin menuntut untuk mendapatkan produk dan layanan nilai tambah dari industri ini.

Tidak ada komentar: