Saya agak tergelitik ketika saya membaca sekilas novel karya ketiga dari empat novel seri laskar pelangi oleh Andrea Hirata ini. Novel ini mengingatkan saya kepada masa lalu sewaktu saya sedang kuliah di negeri Paman Sam. Cerita novel ini yang ringan dan lucu, tetapi memberikan perenungan telah mengembalikan kepada nostalgia saya di masa yang lalu.
Novel Edensor menceritakan petualangan si penulis dalam rangka menemukan jati diri dan cintanya dengan melakukan petualangan keliling eropa sebagai “backpacker”. Menurut penulis menjadi turis backpacker sangat seru karena tidak dibatasi oleh rute-rute wisatawan tertentu maupun jadwal travel yang sudah memiliki jadwal ketat dan terbatas. Sebagai backpacker kita mempunyai kesempatan untuk melakukan eksplorasi semau dan semampu kita, karena biasanya dengan uang yang pas-pasan, Seorang backpacker mem butuhkan kreativitas ketika uangnya cekak misalnya mengamen dengan menyanyi atau memainkan alat musik, menari, bahkan beraksi menjadi patung. Makan, minum dan menginapnya juga sembarangan, seperti di stasiun kereta, terminal bus, emperan toko, maupun masjid dan gereja tergantung keadaan. Justru dengan
Bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang membuat saya berpikir ternyata begitu banyak hal yang dapat dipelajari dari orang-orang tersebut, dan tidak hanya menjadi katak dalam tempurung yang terbelenggu dengan peringai kita sendiri. Ternyata orang-orang asing yang ditemui lebih peduli kepada orang lain bahkan kepada bangsa kita dibandingkan dengan orang-orang bangsa sendiri. Tentunya tidak harus melalui petualangan yang ekstrim seperti yang dilakukan oleh Andrea dan saudaranya itu.
Si penulis juga menceritakan bagaimana dedikasinya dalam menyelesaikan studinya karena saudaranya terserang penyakit asma yang disebabkan oleh alergi udara dingin sehingga harus dikirim pulang ke tanah air dan harus menunggu musim panas berikutnya untuk dapat menyelesaikan studinya. Ditambah dengan sang dosen pembimbing yang merupakan pakar di bidang ekonomi telekomunikasi yang akan pensiun dan kembali ke negaranya di Inggris sedangkan sang penulis tinggal di Paris di Universitas Sorbone. Sungguh berat perjuangan penulis untuk dapat membagi keseimbangan antara belajar di kampus dan belajar di kehidupan nyata.
Mungkin bekal petualangan yang tidak harus ekstrim dan pengalaman belajar seperti itu menjadikan rekan-rekan yang bersekolah di luar negeri memiliki nilai tambah, karena bisa melihat dunia dan kehidupan dengan berkelana dibandingkan dengan kita yang sehari-hari menghadapi kerutinan yang sangat membosankan yaitu kantor, pekerjaan rutin, dan lingkungan yang homogen tidak banyak berubah, dan doktrin-doktrin kuno di sekitar kita yang memarjinalkan keberadaan kita. Wallahu’alam bi shawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar