Kamis, 06 November 2008

Kegagalan Bank Sentral? - Sebuah Indikasi Untuk Melakukan Perubahan

Assalamu'alaikum wr wb

Disadur dari Tulisan Prof. Dr. Joseph E. Stiglitz

Kadang saya merenung mengapa Bank Indonesia tidak banyak memberikan kontribusi kepada perekonomian terutama sektor riil di Indonesia walaupun notabene fungsi dari Bank Indonesia adalah menjaga rupiah dan mencapai target inflasi tertentu sehingga sektor riil dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Banyak para pengusaha yang mengeluh akan tingginya cost of fund kredit perbankan. Dari waktu ke waktu suku bunga selalu naik. Tahun 2007 suku bunga mengalami penurunan karena kita sudah mengalami suku bunga yang tinggi tahun-tahun sebelumnya, dan itu pun karena dibantu oleh harga minyak dan komoditas pangan yang relatif stabil.

Di tahun 80-an, Sepertinya bank-bank sentral di seluruh dunia terpengaruh oleh konsep monetarism, teori ekonomi yang relatif sederhana, yang dipromosikan oleh Milton Friedman. Kemudian monetarism telah didiskreditkan oleh biaya yang sangat mahal yang ditanggung terutama di negara-negara yang menggunakan mantra monetarism, walaupun kemudian negara-negara tersebut berusaha untuk menemukan sebuah mantra baru.
"Perekonomian yang lemah dengan jumlah pengangguran yang lebih besar yang disebabkan oleh inflation targeting tidak banyak memberikan pengaruh terhadap inflasi"
Mantra yang selama ini digunakan adalah "inflation targeting" yang mengatakan ketika pertumbuhan harga melebihi target yang suda ditentukan, suku bunga harus dinaikkan. Resep ini didasarkan pada teori ekonomi atau bukti empiris yang menyatakan apapun sumber dari inflasi, jawaban terbaik adalah menaikkan suku bunga. Orang berhadap bahwa kebanyakan negara akan memiliki panca indera yang baik untuk tidak menerapkan inflation targeting, dan Joseph E. Stiglitz memberikan simpatinya kepada orang-orang yang ingin menerapkan konsep tersebut.

Negara-negara yang menerapkan inflation targeting adalah Israel, Republik Czech, Polandia, Brazil, Chile, Colombia, Afrika Selatan, Thailand, Korea, Mexico, Hungaria, Peru, Filipina, Slovakia, Indonesia, Rumania, New Zealand, Canada, Inggris, Swedia, Australia, Iceland, dan Norwegia.

Hari ini inflation targeting sedang menghadapi cobaan, dan sudah hampir pasti akan gagal. Negara-negara berkembang saat ini menghadapi kenaikan inflasi yang tinggi bukan karena manajemen makroekonomi yang buruk tetapi karena kenaikan harga minyak dan bahan pangan; dan komoditas ini mengabilsebagian besar anggaran rumah tangga dibandingkan dengan rumah tangga di negara-negara maju. Menurut data, di China inflasi sudah mendekati 8%, di Indonesia 12% atau lebih. Di Vietnam bahkan lebih tinggi lagi mendekati 18,2% tahun ini, di India mencapai 5,8%. Berbeda dengan di Amerika Serikat inflasi hanya mencapai 3%. Apakah ini berarti bahwa negara-negara berkembang harus menaikkan suku bunganya lebih dari yang di Amerika Serikat?

Inflasi di negara-negara ini sebagian besar merupakan hasil inflasi yang diimport. Menaikkan suku bunga tidak akan memberikan pengaruh pada harga-harga internasional seperti tepung terigu atau minyak. Bahkan bila melihat ukuran ekonomi di Amerika Serikat, melambatnya perekonomian memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan melambatnya ekonomi di negara berkembang yang mengindikasikan bahwa suku bunga di Amerika Serikat, bukan suku bunga di negara berkembang, yang seharusnya dinaikkan.

Selama negara berkembang masih terintegrasi ke dalam ekonomi global atau globalisasi dan tidak melakukan usaha untuk membatasi pengaruh harga internasional terhadap harga domestik, maka harga domestik komoditas seperti beras dan tepung terigu akan meningkat mengikuti harga pasar dimana harga internasional terus meningkat. Pada negara-negara berkembang harga minyak dan bahan pangan yang tinggi melambangkan 3 ancaman yaitu tidak hanya negara pengimport harus membayar lebih untuk mendapatkan tepung trigu mereka harus membayar lebih untuk membawanya ke negara masing-masing dan harus mengirimkan/mendistribusikan kepada konsumen yang boleh jadi tinggal jauh dari pelabuhan.

Menaikkan suku bunga dapat mengurangi aggregate demand, yang akan memperlambat perekonomian dan menjinakkan harga-harga barang dan jasa, terutama sekali barang dan jasa yang tidak diperdagangkan. Namun, kecuali peningkatan suku bunga pada dilakukan pada level yang sangat tinggi, maka tindakan ini tidak akan dapat membuat inflasi turun pada level yang menjadi target. Sebagai contoh walaupun harga energi dan bahan pangan meningkat pada level moderate dibandingkan sekarang, sebagai contoh 20% per tahun, dan direfleksikan pada harga domestik, akan membawa inflasi hingga katakanlah 3% maka dibutuhkan penurunan harga di komoditas yang lainnya. Hal ini tentunya akan menghasilkan kelambatan pertumbuhan perekonomian dan pengangguran yang tinggi. Obat yang diberikan lebih buruk daripada penyakit itu sendiri.

Lalu apa yang dapat diperbuat? Tentunya pemerintah dan bank sentral tidak boleh disalahkan terhadap inflasi yang diimpor, sama saja ketika inflasi mencapai angka yang rendah ketika lingkungan bisnis dalam kondisi baik pemerintah dan bank sentral tidak mendapatkan applause.

Kedua kita harus mengenali bahwa harga yang tinggi dapat menyebabkan perasaan stres terutama sekali pada individu dengan pendapatan rendah. Demo dan protes di negara-negara berkembang merupakan manifestasi dari pada hal tersebut.

Liberalisasi perdagangan telah dianggap sebagai sebuah kelebihan, namun mereka tidak sepenuhnya jujur terhadap risiko yang mungkin ditimbulkan. Risiko dimana market gagal memberikan jaminan yang cukup. Sekitar 25 tahun yang lalu, Joseph E. Stiglitz menunjukkan pada kondisi yang dapat diterima liberalisasi perdagangan dapat membuat kondisi lebih buruk. Beliau tidak beragumentasi mengenai proteksi pasar, namun lebih menyuarakan suara hati-hati yang harus kita pahami terutama risiko buruk dan kita harus siap untuk menghadapinya.

Ketika kita berbicara mengenai pertanian, negara maju seperti US dan Uni eropa, berhasil memisahkan baik konsumen maupun petani dari risiko-risiko tersebut. Akan tetapi kebanyakan negara berkembang tidak memiliki institusi yang terstruktur atau sumber daya untuk melakukan hal yang sama. Kebanyakan negara mengambil tindakan emergency seperti mengenakan tarif pajak ekspor atau larangan ekspor yang barangkali dapat membantu warga negaranya, akan tetapi menyebabkan permasalahan di negara lain.

jika kita ingin menghindari perseteruan yang lebih keras terhadap globalisasi, negara-negara barat harus melakukan tindakan nyata lebih cepat dan lebih serius. Subsidi bio-fuel yang memotivasi petani untuk memindahkan produksinya dari bahan pangan kepada sumber energi harus dibatalkan. Uang Miliar dollar yang digunakan untuk memberikan subsidi kepada para petani di negara barat harus digunakan untuk membantu negara-negara berkembang yang lebih miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar akan makanan dan energi.

Lebih penting lagi bahwa negara berkembang maupun negara maju harus meninggalkan inflation targeting. Permasalahan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan pangan dan energi yang harganya terus meningkat cukup menyita waktu dan sangat berat. Perekonomian yang lemah dengan jumlah pengangguran yang lebih besar yang disebabkan oleh inflation targeting tidak banyak memberikan pengaruh terhadap inflasi; hal ini hanya akan membuat tugas untuk bertahan pada kondisi seperti ini menjadi semakin sulit.

Wallahu'alam bishowab...

Tidak ada komentar: