Towards a co-ordinated macroeconomic expansion among Asian economies
Oeh Anggota Panel Ekonomi Asia
Assalammu'alaikum wr. wb.
Saya bersyukur ternyata negara-negara Asia masih memiliki kebersamaan (paling tidak dari para akedemisi dan praktisi) untuk menyambut G20 sebagai momen untuk menyampaikan semacam Kerangka Kerja dalam menghadapi dan melalui krisis finasial global yang berkepanjangan.
Kita sudah mengetahui bahwa resesi di US dan sebagian Eropa kemungkinan besar makin parah dan berkepanjangan, sehingga para ekonom Asia harus mengambil langkah-langkah yang cepat dan melakukan koordinasi untuk melindungi pertumbuhan ekonominya di masa kondisi resesi di Amerika Serikat dan Eropa.
Kebijakan untuk mengimbangi siklus ini harus melibatkan kebijakan moneter, fiskal, dan nilai tukar. Dengan mengambil kebijakan secara bekoordinasi dan berkolaborasi, ekonomi Asia akan dapat mencapai hasil yang lebih besar dan lebih tahan dibandingkan dengan apabila mereka mengambil kebijakan secara sendirian. Kepemimpinan di Asia timur berada pada negara dengan skala ekonomi terbesar yaitu China, Jepang, Korea, dan ASEAN. Negara-negara lain di Asia Timur, Asia Selatan dan Oceania kemungkinan akan bergabung dalam mengambil kebijakan bersama ini.
Probabilitas keadaan yang lebih buruk yang terjadi pada resesi di Amerika Serikat harus menjadi perhatian. Kondisi rumah tangga di Amerika Serikat mengalami masalah hutang setelah beberapa tahun tidak memiliki tabungan. Kondisi kredit pada rumah tangga menjadi sangat seret secara dramatis, penurunan konsumsi menjadi nyata. Penurunan nilai rumah dan harga ekuitas barangkali telah mencapai US$ 15 Triliun dari puncaknya. PHK meningkat.
Semua ini akan mengakibatkan kejatuhan yang dalam pada belanja konsumsi dan investasi. Amerika dengan demikian mengalami resesi yang sangat dramatis yang akan mengakibatkan penularan ke bagian lain di dunia. Penularan ini termasuk turunnya nilai ekspor dari Asia ke Amerika Serikat, nilai US Dollar yang melemah, dan Pemberhentian penyaluran kredit dari bank-bank dan Investor di Amerika Serikat di Asia.
Negara-negara yang terkabung pada G20 akan bertemu di Washington DC. pada tanggal 15 November. Kami merekomendasikan Para Pemimpin Ekonomi Asia hadir pada meeting tersebut dengan kerangka kebijakan Makro Ekonomi Asia yang sudah disiapkan.
Ekspansi Makro Ekonomi di Asia tidak hanya akan membantu untuk mempertahankan pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Pekerjaan di Asia namun, juga akan membantu untuk membatasi penurunan pertumbuhan Global.
Pertumbuhan yang lebih besar di Asia berarti membantu penjualan barang-barang di Amerika Serikat pada pasar di Asia, sehingga membantu untuk memoderasi resesi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Karena alasan ini Koordinasi ekspansi makro ekonomi di antara negara-negara seperti China, Jepang dan Korea mendapatkan penghargaan yang tinggi dari semua negara-negara di dunia.
Berikut adalah langkah-langkah yang akan diambil seseger mungkin:
1. Mengumumkan bahwa China, Jepang dan Korea akan bekerja sama termasuk dengan negara-negara di regionalnya untuk memastikan bahwa pertumbuhan Asia tetap kuat walaupun diterpa badai resesi di Amerika Serikat dan Eropa.
2. Memberikan Kapasitas Swap di antara tiga bank sentral, untuk memperbesar kapasitas Swap yang diberikan oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang diberikan kepada Korea dan beberapa negara lainnya.
3. Menghindari berbagai peranan IMF pada operasional Kapasitas Swap ini
4. Mengumumkan kerja sama ekspansi fiskal yang cocok untuk masing-masing negara. China sebagai contoh, akan fokus pada peningkatan infrastruktur Kota, Perumahan Umum, dan Pengurangan pajak. Jepang dan Korea akan mengidentifikasi project-project yang bertujuan memberikan tingkat pengembalian tinggi terutama untuk kepentingan publik atau melakukan pengurangan pajak. Pemerintah Jepang juga kemungkinan akan membeli ekuitas untuk membatasi penurunan harga ekuitas (saham).
5. Mengumumkan kerja sama ekspansi moneter, sebagai contoh penurunan suku bunga yang dikoordinasikan.
6. Mengumumkan bahwa ketiga negara akan menghindari penyesuaian nilai tukar sehingga tidak menyebabkan beggar-thy-neighbour (permasalahan terhadap negara-negara tetangganya, baca: Globalization and its Discontent, Joseph E. Stiglitz), dan berusaha untuk menjaga nilai tukar masing-masing sestabil mungkin terhadap nilai US Dollar dan Euro. Terutama, Bank Central Jepang akan melawan apresiasi nilai tukar yang berlebihan dan menghimbau Bank Sentral Amerika Serikat dan Eropa untuk mendukung Jepang untuk melakukan intervensi nilai tukar jika diperlukan untuk menjaga agar nilai tukar Yen di atas 100 Yen per US Dollar.
7. Membangun sebuah komite yang beranggotakan menteri luar negeri senior dan pejabat bank sentral dari China, Jepang dan Korea untuk membuat semacam paket koordinasi yang diambil dalam menjawab krisis yang sedang berlangsung, serta memonitor krisis yang sekarang terjadi lebih sering lagi, dan lebih mendetil.
Tertanda,
Anggota Panel Ekonomi Asia
Jeffrey Sachs, Columbia University, USA
Wing Thye Woo, Brookings Institution, USA
Naoyuki Yoshino, Keio University, Japan
Yung Chul Park, Korea University, Korea
Bhanupong Nidhiprabha, Thammasat University, Thailand
Kang Chen, Nanyang Technological University
Geng Xiao, Brookings-Tsinghua Center, China
Yeongseop Rhee, Sook Myung University, Korea
Khee Giap Tan, Nanyang Technological University
Mahani Zainal Abidin, Institute of Strategic and International Studies, Malaysia
Donald Hanna, Citigroup, USA
Kaliappa Kalirajan, National Graduate Research Institute for Policy Studies, Japan
Maria Socorro Bautista, University of the Philippines
Ryuhei Wakasugi, Kyoto University, Japan
Sulayman Al-Qudsi, Arab Bank Group, Jordan
Keun Lee, Seoul National University
See-Yan Lin, former Deputy Governor, Bank Negara Malaysia
Ji Chou, Shih Hsin University, Taiwan
Fredrik Sjöholm, Research Institute of Industrial Economics, Sweden
Xiaolan Fu, Oxford University, UK
Kanhaiya Singh, National Center for Applied Economic Research, India
Liqing Zhang, Central University of Finance and Economics, China
Shigeyuki Abe, Doshisha University, Japan
Shuanglin Lin, Peking University
Kwanho Shin, Korea University, Korea
Yunjong Wang, S.K. Telecom, Korea
Wei Zhang, Cambridge University, UK
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar