Selasa, 04 Desember 2007

Amanah

An-Nisa (4) ayat 58

Tafsir Al-Mishbah

Pesan, Kesan & Keserasian AL-Qur’an

M. Quraish Shihab

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amana-amanah kepada pemiliknya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknyua kepada kamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”

Allah Yang Mahga Agung, yang wajib wujud-Nya serta menyandang segala sifat terpuji lagi suci dari segala sifat tercela menyuruh kamu menunaikan amanah-amanah secara sempurna dan tepat waktu kepada pemiliknya yakni yang berhak menerimanya, baik amanah Allah kepada kamu maupun amanah manusia betapapun banyaknya yang diserahkannya kepada kamu, dan Allah juga menyuruh kamu apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia baik yang berselisih dengan manusia lain maupun tanpa perselisihan, maka supaya kamu harus menetapkan putusan dengan adil sesuai dengan apa yang diajarkan Allah Swt. Tidak memihak kecuali kepada kebenaran dan tidak pula menjatuhkan sanksi kecuali kepada yang melanggar, tidak menganiaya walau lawanmu dan tidak pula memihak kepada temanmu. Allah telah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu karena itu berupayalah sekuat tenaga untuk melaksanakannya dan ketahuilah bahwa Dia yang memerintahkan kedua hal ini mengawasi kamu dan sejak dulu hingga kini adalah Maha Mendengar apa yang kamu bicarakan baik dengan orang lain maupun dengan hati kecilmu sendiri, lagi Maha melihat sikap dan tingkah laku kamu.

Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya. Amanah adalah lawan dari khianat. Ia tidak diberikan kecuali kepada orang yang dinilai oleh pemberinya dapat memelihara dengan baik apa yang diberikannya itu.

Agama mengajarkan bahwa amanah/kepercayaan adalah asas keimanan berdasarkan sabda Nabi Swa.,”Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki amanah.

Amanah membutuhkan kepercayaan dan kepercayaan itu melahirkan ketenangan batin yang selanjutnya melahirkan keyakinan. Amanah bukan sekadar sesuatu yang bersifat material, tetapi juga non-material dan bermacam-macam.

“Sesungguhanya Kami telah menawarkan amanah kepda langit, bumi dan gunung-gunung, maka seuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikulah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.’(QS al-Ahzab (33):72)

Salah satu contoh diantranya berupoa teguran kepada Nabi Saw yang hamper saja terperdaya oleh dalih seorang muslim yang munafik, yang bermaksud mempersalahkan seorang Yahudi. Dalam konteks inilah turun firman-Nya:”Dan janganlah engkau menjadi penentang orang-orang yang tidak bersalah, karena (membela) orang-orang yang khianat” (QS. An-Nisa 4:105). Nabi Saw pun seringkali mengingatkan hal ini, misalnya dengan sabda beliau, “Berhati-hatilah! Doa orang yang ternaiaya diterima Allah, walaupun dia durhaka (karena) kedurhakaannya dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri” (HR. Ahmad dan al-Bazzar melalui Abu Hurairah).

Tidak ada komentar: